Kamis, 13 Oktober 2016

Surat Al-Fatihah

Membaca Surat Al-Fatihah
Assalamu’alaikum, Wr.Wb. 

Muqadimah

Surat Al-Fatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Surat ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al-Qur’an. Dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Qur’an, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang.

Dinamakan pula As-Sab'ul matsany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.


Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al-Qur’an, yaitu :


1. Keimanan:
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah: nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rab dalam kalimat Rabbul-‘aalamiin tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al-Fatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.

Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadah yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.


2. Hukum-hukum:
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.


3. Kisah-kisah:
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebagian besar dari ayat-ayat Al-Qur’an memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.


Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an pada surat-surat yang lain.


Penutup

Surat Al-Fatihah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang 113 surat berikutnya.

Persesuaian surat ini dengan surat Al-Baqarah dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al-Fatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al-Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.


Dibagian akhir surat Al-Fatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan kejalan yang lurus, sedang surat Al-Baqarah dimulai dengan penunjukan al-Kitab (Al-Qur’an) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.


Makna Surah Al-Fatihah Dan Kelebihan Mengamalkannya

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم
Bismi Llâhi r-rahmâni r-rahîm
1. " dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang "

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِين

Al-hamdu liLlâhi rabbi l-`âlamîn
2. " Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam "

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم

Ar-rahmâni r-rahîm
3. " Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang "

مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّين

Mâliki yawmi d-dîn
4. " Yang menguasai hari pembalasan (hari Akhirat)"

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Iyyâka na`budu wa'iyyâka nasta`în
5. " Kepadamu aku menyembah dan kepadamu aku meminta pertolongan "

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَ ٰط ٱلْمُسْتَقِيمَ

Ihdina s-sirâta l-mustaqîm
6. " Tunjukilah kami ke jalan yang lurus "

صِرَ ٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
وَلاَ ٱلضَّاۤلِّينَ
Sirâta llazîna an`amta `alayhim
ghayri l-maghdhûbi `alayhim
wala dh-dhâllîn . . . 
7. " (Yaitu) jalan orang orang yang telah engkau beri nikmat. Bukan (jalan) orang orang yang engkau murkai dan bukan (pula jalan) orang orang yang sesat "

*** dalam shalat setelah dibaca imam, ma’mum menjawabaaamiin ...

Kelebihan Membaca dan Mengamalkan Surah Al-Fatihah


1.     Dalam hadits yang lain bahwa pernah Malaikat Jibril AS sedang duduk berdekatan Rasulullah SAW apabila tiba-tiba, ia mendengar dari atas, yaitu dari langit, satu suara yang benda pecah. Hazrat Jibril AS berkata “malaikat tertentu telah turun dari langit yang tidak pernah turun sebelumnya hari ini”. Malaikat ini memberi salam dan berkata “Wahai Rasulullah SAW semoga baginda Rasul diberkati. Baginda telah dianugerahkan dengan dua cahaya yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelum ini. Satu ialah Fatihatul Kitab dan yang kedua ialah dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah. Apa saja huruf yang tuan baca daripadanya akan diberi ganjaran.”


2.    Amalkan membaca Al-Fatihah semasa hendak tidur, diikuti membaca surah Al-Ikhlas tiga kali, surah Al-Falaq dan surah An-Nas. Insya Allah akan aman

tenteram dan terjauh daripada gangguan syaitan.


3.    Bacalah 40 kali surah ini selepas shalat Maghrib dan sunahnya untuk

memohon sesuatu yang baik kepada Allah SWT, Insya Allah hajatnya akan terkabul.


4.    Surah Al-Fatihah jika dibaca 41x pada segelas air dan diminum, di usap pada muka, tangan dan kaki orang yang mengidap demam panas, insya Allah akan segera sembuh


5.     Baca dan diamalkan 7x selepas shalat fardu, insya Allah orang yang mengamalnya dihindari dari segala kesusahan hidup.


6.    Dibaca surah ini 41x selepas shalat subuh, insya Allah akan mudah mendapat rezeki, hutang langsai dan akan disenangi orang apabila bertemu dengannya.


7.     Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah memberitahu yang ia pernah sakit di Mekah, tanpa tabib dan obat. Lalu ía minum air zamzam dan membaca Al-Fatihah beberapa kali kemudian minum air zamzam lagi dan akhirnya sembuh dengan izin Allah. Ia akhirnya merawat setiap arang sakit yang menemuinya dengan faedah yang sama.


8.    Kharijah bin As-Salat Al-Tamimi meriwayatkan sebuah hadits daripada bapak saudaranya Allaqah bin Sahhar, yang menyatakan dia telah bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam perjalanan pulang dia telah didatangi oleh sekumpulan orang Arab. Mereka ber­kata:

Kami diberitahu bahwa saudara datang de­ngan membawa kebajikan. Adakah saudara mempunyai obat atau jampi? Kami mempunyai seorang lelaki gila yang dirantai”.
Dia menjawab, “Ya!” Lalu ia dibawa menemui lelaki yang dipasung tadi. Pesakit tadi telah dibacakan dengan bacaan Surah Al-Fatihah selama tiga hari berturut-turut, setiap pagi dan petang, dan Al-Hamdulillah sembuh seperti sediakala dengan izin Allah SWT.
Sama-sama la kita menghafal dan mengamalkan surah Al-Fatihah.

Wallahu a’lam bishawab.
Semoga menjadi manfaat bagi kita sekalian, amiin.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

sumber: media kajian agama Islam





Bersyukur Kepada Allah SWT

Nikmat Syukur.


1. Syukur dengan Hati.

Cara bersyukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh baik itu besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah Allah Ta’ala.
Syukur dengan hati dapat mengantarkan kita untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu meskipun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan kesadaran betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat pujian kepada-Nya.

2. Syukur dengan Lisan.
Ketika kita sangat yakin bahwa segala nikmat yang diperoleh bersumber dari Allah, dengan mudah kita akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). Oleh karena itu, apabila kita memperoleh nikmat dari seseorang, lisan akan tetap memuji Allah sebab adanya keyakinan bahwa orang lain adalah perantara sampainya nikmat tersebut pada kita.

3. Syukur dengan Perbuatan.
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah SWT sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya jika dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi)

Maksud dari hadits di atas adalah bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu menampakkan ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama, memberi nasihat dan sebagainya. Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur kepada-Nya.

4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan.
Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit.

Demikian pula halnya dengan nikmat iman dan Islam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis ta’lim, berdzikir dan berdo’a. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nahl [16]: ayat 18)

Demikian sebaik-baiknya cara bersyukur pada Allah SWT. Semoga kita sekalian adalah hamba yang selalu mensyukuri nikmat serta karunia-Nya, termasuk syukur pada hari ini. . .

Ucapkan Alhamdulillah...

Wallahu A'lam Bishawab

sumber: media kajian agama Islam